Mengenal Berbagai Jenis Packaging untuk Kebutuhan Industri, Fungsi, Material, dan Cara Memilih Kemasan yang Tepat. Dalam dunia industri modern, kemasan bukan lagi sekadar pembungkus yang digunakan untuk menutupi suatu produk. Packaging telah berkembang menjadi bagian penting dari proses produksi, penyimpanan, distribusi, perlindungan barang, hingga pembentukan identitas sebuah merek. Tidak mengherankan jika pemilihan kemasan menjadi salah satu pertimbangan yang diperhatikan oleh berbagai sektor usaha.
Perkembangan bisnis manufaktur, makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, elektronik, hingga perdagangan membuat kebutuhan kemasan semakin beragam. Setiap produk memiliki karakteristik berbeda sehingga membutuhkan perlindungan yang sesuai. Produk cair, misalnya, memerlukan kemasan yang mampu menahan kebocoran, sedangkan produk elektronik membutuhkan perlindungan tambahan terhadap benturan, debu, dan kelembapan.
Di tengah meningkatnya persaingan industri, pemahaman mengenai jenis packaging juga semakin dibutuhkan. Pelaku usaha tidak hanya mempertimbangkan tampilan kemasan, tetapi mulai memperhatikan efisiensi penggunaan bahan, keamanan produk, kemudahan penyimpanan, biaya pengiriman, serta kemungkinan pengelolaan kemasan setelah digunakan. Berbagai pertimbangan tersebut menjadikan pemilihan packaging sebagai bagian dari strategi bisnis.
Perhatian terhadap keamanan dan keberlanjutan kemasan juga semakin berkembang. Salah satu perkembangan penting di Indonesia adalah terbitnya Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2026 tentang Kemasan Pangan yang mulai berlaku pada 30 Juni 2026. Aturan ini memperbarui ketentuan keamanan kemasan pangan, termasuk bahan yang bersentuhan langsung dengan makanan, batas migrasi zat, serta penggunaan kemasan guna ulang dan bahan daur ulang.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai packaging tidak hanya berkaitan dengan desain atau bentuk produk. Ada aspek ilmu material, keamanan, teknologi produksi, dan tanggung jawab lingkungan yang saling berkaitan. Karena itu, mengenal berbagai jenis packaging menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi pelaku industri, pengelola usaha, mahasiswa, maupun masyarakat yang ingin memahami perkembangan dunia manufaktur.
Mengenal Berbagai Jenis Packaging untuk Kebutuhan Industri, Fungsi, Material, dan Cara Memilih Kemasan yang Tepat
Apa Itu Packaging dan Mengapa Penting bagi Dunia Industri?
Packaging merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses dan material pengemasan suatu produk. Dalam bahasa Indonesia, packaging dikenal sebagai kemasan atau pengemasan.
Fungsi utamanya adalah melindungi produk dari berbagai risiko selama proses penyimpanan, penanganan, pengangkutan, dan pemasaran. Namun, dalam penerapannya, fungsi packaging jauh lebih luas daripada sekadar memberikan perlindungan fisik.
Dalam industri, kemasan dapat membantu menjaga kualitas produk, memberikan informasi kepada konsumen, mempermudah proses inventarisasi, serta mendukung efisiensi distribusi. Packaging juga menjadi bagian dari pengalaman konsumen ketika menerima dan menggunakan suatu produk.
Sebagai contoh, industri makanan membutuhkan kemasan yang mampu menjaga kualitas dan memenuhi persyaratan keamanan pangan. Industri elektronik membutuhkan perlindungan terhadap benturan dan listrik statis untuk jenis produk tertentu. Sementara itu, industri kosmetik mempertimbangkan material yang sesuai dengan karakteristik formulasi produk.
Dengan demikian, jenis packaging perlu disesuaikan dengan kebutuhan produk dan proses bisnis yang dijalankan.
Mengenal Jenis Packaging Berdasarkan Fungsinya
Salah satu cara paling mudah memahami packaging adalah dengan mengelompokkannya berdasarkan fungsi dan posisinya dalam proses pengemasan.
1. Packaging Primer
Packaging primer merupakan kemasan yang bersentuhan langsung dengan produk atau menjadi wadah utama produk.
Contohnya dapat ditemukan pada berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti botol minuman, kemasan makanan, tube kosmetik, blister obat, dan wadah produk perawatan tubuh.
Kemasan primer mempunyai peran penting karena berhubungan langsung dengan karakteristik produk. Oleh sebab itu, pemilihan material harus mempertimbangkan keamanan, kesesuaian bahan, ketahanan, dan kondisi penyimpanan.
Untuk produk pangan, misalnya, kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan harus memenuhi persyaratan keamanan bahan kontak pangan. Tidak semua plastik, kertas, atau material lain otomatis sesuai digunakan untuk seluruh jenis makanan.
2. Packaging Sekunder
Packaging sekunder merupakan kemasan tambahan yang digunakan untuk mengelompokkan, melindungi, atau menyajikan beberapa produk yang telah memiliki kemasan primer.
Contoh yang sering dijumpai adalah kotak karton untuk beberapa botol minuman, dus kosmetik, kemasan luar produk elektronik, dan kotak yang berisi beberapa produk makanan.
Fungsi kemasan sekunder antara lain:
- Mengelompokkan beberapa produk dalam satu kemasan.
- Memberikan perlindungan tambahan.
- Mempermudah penyimpanan dan penataan.
- Menyediakan ruang untuk informasi produk.
- Mendukung tampilan produk saat dipasarkan.
Kemasan jenis ini sering dimanfaatkan untuk meningkatkan kerapian dan konsistensi penyajian produk.
3. Packaging Tersier
Packaging tersier merupakan kemasan yang digunakan untuk mendukung penyimpanan dan distribusi dalam jumlah besar.
Contohnya meliputi stretch film, pallet wrap, karton pengiriman, peti, dan kemasan pengangkutan lainnya.
Dalam aktivitas pergudangan dan logistik, packaging tersier membantu menyatukan sejumlah produk agar lebih mudah dipindahkan menggunakan peralatan distribusi.
Penggunaan kemasan tersier juga membantu mengurangi risiko kerusakan selama perjalanan, terutama ketika barang harus melewati beberapa tahapan pemindahan.
Ketiga kategori tersebut dapat digunakan secara bersamaan. Sebuah produk minuman, misalnya, memiliki botol sebagai kemasan primer, dus berisi beberapa botol sebagai kemasan sekunder, dan stretch film pada pallet sebagai kemasan tersier.
Berbagai Jenis Packaging Berdasarkan Materialnya
Selain berdasarkan fungsi, kemasan juga dapat dibedakan menurut bahan pembuatnya. Setiap material mempunyai karakteristik, kelebihan, keterbatasan, serta kebutuhan penggunaan yang berbeda.
1. Packaging Plastik
Packaging plastik termasuk jenis kemasan yang banyak digunakan dalam berbagai sektor industri.
Material plastik memiliki karakteristik yang beragam. Ada yang fleksibel, transparan, ringan, kaku, maupun mempunyai kemampuan tertentu dalam menahan kelembapan dan gas.
Beberapa material plastik yang umum digunakan antara lain:
Polyethylene Terephthalate (PET)
PET banyak ditemukan pada botol minuman, wadah makanan tertentu, dan kemasan produk konsumen. Material ini dikenal memiliki bobot relatif ringan, transparan, serta karakteristik penghalang yang berguna untuk aplikasi tertentu.
High-Density Polyethylene (HDPE)
HDPE merupakan plastik yang memiliki struktur relatif kuat dan kaku. Penggunaannya dapat ditemukan pada botol produk rumah tangga, wadah cairan, dan berbagai kemasan industri.
Low-Density Polyethylene (LDPE)
LDPE mempunyai karakteristik lebih fleksibel. Material ini sering digunakan untuk kantong, plastik pembungkus, film, dan aplikasi kemasan fleksibel lainnya.
Polypropylene (PP)
PP dapat digunakan untuk wadah makanan tertentu, tutup kemasan, kantong, dan berbagai kebutuhan industri. Karakteristiknya membuat material ini cocok untuk sejumlah aplikasi yang membutuhkan ketahanan tertentu terhadap panas.
Polystyrene (PS)
PS dapat ditemukan dalam bentuk kaku maupun foam. Contoh penggunaannya meliputi beberapa wadah makanan dan kemasan pelindung barang.
Pemilihan plastik sebaiknya tidak hanya berdasarkan harga. Faktor seperti ketebalan, jenis produk, suhu penggunaan, karakteristik bahan, serta persyaratan keamanan perlu menjadi perhatian.
2. Packaging Kertas
Kemasan kertas banyak digunakan untuk produk yang membutuhkan material ringan, mudah dicetak, dan praktis.
Contohnya meliputi paper bag, pembungkus, kantong kertas, dan kemasan berbahan kertas khusus.
Kertas dapat menjadi pilihan untuk kebutuhan ritel, makanan tertentu, produk fesyen, serta berbagai barang konsumen.
Keunggulan packaging kertas antara lain:
- Bobot relatif ringan.
- Mudah dibentuk menjadi berbagai model.
- Mendukung kebutuhan pencetakan.
- Tersedia dalam berbagai ketebalan.
- Berpotensi didaur ulang apabila material dan kondisinya mendukung.
Namun, kemasan kertas mempunyai keterbatasan terhadap air dan kelembapan. Untuk kebutuhan tertentu, diperlukan lapisan tambahan atau kombinasi material agar performanya sesuai dengan karakteristik produk.
Perlu diperhatikan bahwa kertas yang dilapisi plastik atau bahan lain tidak selalu dapat diproses melalui fasilitas daur ulang kertas biasa.
3. Packaging Karton dan Corrugated Box
Karton merupakan material yang sangat penting dalam aktivitas pengemasan dan distribusi.
Salah satu bentuk yang banyak digunakan adalah corrugated box atau kardus bergelombang.
Struktur bergelombang pada bagian tengahnya membantu memberikan kekuatan dan perlindungan terhadap tekanan maupun benturan sesuai spesifikasi konstruksinya.
Corrugated box banyak digunakan untuk:
- Pengiriman produk elektronik.
- Distribusi makanan dan minuman.
- Penyimpanan produk manufaktur.
- Pengemasan barang perdagangan.
- Pengiriman produk melalui jasa ekspedisi.
Kelebihan utamanya adalah fleksibilitas dalam ukuran, kemudahan pencetakan, serta kemampuan menyesuaikan desain dengan kebutuhan distribusi.
Kualitas kardus juga dapat disesuaikan melalui jumlah lapisan, ketebalan, jenis flute, dan spesifikasi kertas yang digunakan.
4. Packaging Kaca
Kaca merupakan material kemasan yang sering digunakan untuk produk makanan, minuman, kosmetik, dan farmasi tertentu.
Contoh penerapannya meliputi botol minuman, toples makanan, botol parfum, serta wadah produk perawatan tubuh.
Salah satu karakteristik kaca adalah kemampuannya memberikan penghalang yang baik terhadap gas dan uap air. Kaca juga relatif inert terhadap banyak jenis produk, meskipun kesesuaian tetap perlu diperiksa berdasarkan formulasi dan kondisi penggunaan.
Beberapa kelebihan packaging kaca:
- Tidak mudah ditembus gas dan uap air.
- Dapat digunakan kembali jika dirancang dan dikelola dengan tepat.
- Memiliki tampilan yang memberikan kesan premium.
- Dapat didaur ulang melalui sistem pengolahan yang sesuai.
Keterbatasannya adalah bobot yang relatif berat dan sifatnya yang mudah pecah ketika mengalami benturan tertentu.
Karena itu, penggunaan kaca sering membutuhkan kemasan sekunder dan tersier yang memadai.
5. Packaging Logam
Kemasan logam biasanya ditemukan pada produk makanan, minuman, bahan kimia tertentu, dan kebutuhan industri lainnya.
Contoh materialnya meliputi aluminium dan baja berlapis timah atau tinplate.
Beberapa bentuk packaging logam adalah:
- Kaleng makanan.
- Kaleng minuman.
- Drum industri.
- Wadah penyimpanan.
- Kemasan aerosol yang sesuai standar.
Logam memiliki karakteristik kuat dan dapat memberikan perlindungan terhadap cahaya, oksigen, serta kelembapan apabila konstruksi dan penutupannya dirancang dengan benar.
Namun, pemilihan lapisan pelindung bagian dalam juga penting untuk menghindari interaksi yang tidak diinginkan antara isi produk dan material kemasan.
6. Flexible Packaging
Flexible packaging atau kemasan fleksibel merupakan kemasan yang menggunakan material lentur dan dapat menyesuaikan bentuk dengan produk.
Contohnya adalah sachet, pouch, standing pouch, plastik roll, dan berbagai jenis kemasan multilayer.
Kemasan fleksibel banyak digunakan pada industri makanan ringan, kopi, bumbu, produk perawatan tubuh, serta produk konsumen lainnya.
Keunggulannya meliputi:
- Bobot relatif ringan.
- Membutuhkan ruang penyimpanan yang dapat lebih efisien.
- Dapat dibuat dalam berbagai ukuran.
- Mendukung desain visual yang menarik.
- Dapat dirancang dengan karakteristik penghalang tertentu.
Meski demikian, kemasan fleksibel yang terdiri dari beberapa lapisan material berbeda dapat lebih sulit didaur ulang dibandingkan kemasan berbahan tunggal.
Oleh karena itu, pengembangan desain yang mempertimbangkan kemudahan pengumpulan dan pengolahan kembali menjadi salah satu perhatian dalam inovasi packaging.
7. Foam Packaging
Foam packaging merupakan material berbentuk busa yang digunakan untuk membantu melindungi barang dari benturan dan tekanan.
Jenis kemasan ini dapat ditemukan pada pengemasan barang elektronik, peralatan rumah tangga, komponen industri, dan barang yang mudah mengalami kerusakan.
Salah satu material yang dikenal adalah expanded polystyrene (EPS).
Keunggulannya terletak pada bobot ringan serta kemampuan memberikan bantalan perlindungan sesuai desain dan kepadatannya.
Namun, penggunaan foam perlu mempertimbangkan pengelolaan setelah pemakaian, karena material ini membutuhkan sistem pengumpulan dan pengolahan yang sesuai.
Jenis Packaging Berdasarkan Bentuk dan Modelnya
Selain material, bentuk kemasan juga menentukan kemudahan penggunaan serta kesesuaiannya dengan produk.
Beberapa model yang umum dijumpai antara lain:
1. Sachet
Sachet merupakan kemasan berukuran kecil yang biasanya digunakan untuk produk sekali pakai atau produk dengan takaran tertentu. Contohnya adalah bumbu, kopi, sampo, dan produk makanan lainnya.
2. Pouch
Pouch adalah kemasan fleksibel berbentuk kantong yang dapat dirancang dengan berbagai model penutup. Beberapa produk menggunakan zipper agar kemasan dapat ditutup kembali.
3. Standing Pouch
Standing pouch merupakan pouch yang memiliki bagian bawah khusus sehingga dapat berdiri ketika diletakkan pada permukaan datar. Model ini sering digunakan untuk produk makanan, kopi, dan kebutuhan konsumen lainnya.
4. Botol
Botol digunakan untuk produk cair, semi-cair, dan beberapa produk berbentuk lainnya. Materialnya dapat berupa plastik atau kaca sesuai kebutuhan.
5. Jar atau Toples
Jar digunakan untuk menyimpan produk seperti makanan, kosmetik, krim, dan bahan tertentu. Bentuknya memungkinkan konsumen mengambil isi produk dengan lebih mudah.
6. Drum
Drum merupakan kemasan berkapasitas besar yang banyak digunakan dalam kebutuhan industri, termasuk penyimpanan dan distribusi cairan atau material tertentu.
7. Pallet Packaging
Pallet packaging merupakan sistem pengemasan yang menyatukan barang di atas pallet agar lebih mudah ditangani dalam aktivitas pergudangan dan transportasi.
Perkembangan Packaging Terbaru: Keamanan Pangan dan Kemasan Berkelanjutan
Pembahasan mengenai jenis packaging semakin menarik karena industri kemasan terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, kebutuhan konsumen, dan kebijakan lingkungan.
Salah satu perkembangan penting di Indonesia pada 2026 adalah penerbitan Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2026 tentang Kemasan Pangan.
Peraturan tersebut menggantikan Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2019 dan memperbarui persyaratan keamanan kemasan pangan.
Dalam siaran pers pada 24 Agustus 2026, BPOM menjelaskan beberapa pembaruan, termasuk pengaturan batas migrasi zat dari kemasan ke pangan, zat kontak pangan yang diizinkan, kemasan guna ulang, dan kemasan berbahan daur ulang.
BPOM juga menjelaskan bahwa jenis bahan plastik yang diatur bertambah dari 41 menjadi 58 jenis, serta terdapat penambahan 88 jenis zat kontak pangan yang diizinkan setelah melalui penilaian keamanan.
Informasi tersebut memperlihatkan bahwa kemasan pangan perlu diperhatikan dari sisi material dan keamanan penggunaannya, bukan hanya bentuk serta penampilan produk.
Bagi pelaku industri makanan dan minuman, perkembangan ini menjadi pengingat penting untuk memastikan bahan kemasan yang digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Perhatian terhadap Kemasan Ramah Lingkungan
Selain keamanan, isu pengurangan sampah kemasan juga menjadi perhatian berbagai negara.
Di Indonesia, Permen LHK Nomor P.75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen menetapkan arah pengurangan sampah produsen sebesar 30 persen pada 2029 dibandingkan baseline yang ditentukan dalam peraturan tersebut.
Pendekatan yang digunakan mencakup pengurangan timbulan sampah, penggunaan kembali, dan daur ulang.
Kebijakan tersebut mendorong perusahaan untuk mulai mempertimbangkan desain kemasan yang lebih mudah dikumpulkan, digunakan kembali, atau didaur ulang.
Di tingkat internasional, Uni Eropa juga mulai menerapkan Packaging and Packaging Waste Regulation (PPWR) pada 12 Agustus 2026. Regulasi tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi limbah kemasan dan memperkuat ekonomi sirkular.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa arah industri packaging semakin berkaitan dengan efisiensi material dan pengelolaan kemasan setelah produk digunakan.
Meski begitu, kemasan ramah lingkungan tidak cukup dinilai hanya dari label atau istilah pemasaran. Perlu diperhatikan bahan penyusunnya, proses produksinya, sistem pengumpulan, fasilitas daur ulang, serta dampak keseluruhan sepanjang siklus hidup kemasan.
Cara Memilih Jenis Packaging yang Tepat untuk Kebutuhan Industri
Setiap perusahaan mempunyai kebutuhan berbeda. Karena itu, pemilihan kemasan sebaiknya dilakukan melalui beberapa pertimbangan agar material yang digunakan benar-benar sesuai dengan produk.
1. Kenali Karakteristik Produk
Langkah pertama adalah memahami sifat produk yang akan dikemas.
Apakah produknya berbentuk cair, padat, bubuk, atau mudah rusak? Apakah sensitif terhadap cahaya, udara, kelembapan, suhu, atau benturan?
Informasi tersebut akan membantu menentukan material dan bentuk kemasan yang tepat.
2. Perhatikan Keamanan dan Kesesuaian Material
Material kemasan harus sesuai dengan produk yang dikemas.
Khusus produk makanan dan minuman, perusahaan perlu memperhatikan ketentuan keamanan pangan dan bahan kontak pangan.
Untuk produk industri lainnya, standar teknis, karakteristik kimia, serta kondisi penyimpanan juga perlu diperiksa.
3. Pertimbangkan Proses Distribusi
Kemasan yang digunakan untuk penyimpanan di gudang belum tentu mempunyai kebutuhan yang sama dengan kemasan untuk pengiriman jarak jauh.
Pertimbangkan kemungkinan benturan, tekanan tumpukan, getaran, perubahan suhu, dan kondisi pengiriman.
Kemasan sekunder maupun tersier dapat diperlukan untuk memberikan perlindungan tambahan.
4. Hitung Efisiensi Biaya
Harga kemasan merupakan salah satu komponen biaya produksi.
Namun, keputusan pembelian sebaiknya tidak hanya melihat harga satuan. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan tingkat kerusakan produk, biaya penyimpanan, kebutuhan tenaga kerja, efisiensi ruang, dan biaya pengiriman.
Kemasan yang sedikit lebih mahal dapat menjadi pilihan ekonomis apabila mampu mengurangi kerusakan barang dan meningkatkan efisiensi operasional.
5. Perhatikan Desain dan Identitas Merek
Kemasan menjadi salah satu elemen yang pertama kali dilihat konsumen.
Warna, bentuk, informasi, dan kualitas tampilan dapat membantu membangun identitas produk.
Desain yang baik sebaiknya tetap mengutamakan keterbacaan informasi, kemudahan penggunaan, serta kesesuaian dengan karakter merek.
6. Evaluasi Aspek Lingkungan
Pertimbangkan apakah kemasan dapat digunakan kembali, dikurangi materialnya, atau diproses melalui sistem daur ulang yang tersedia.
Pemilihan material sebaiknya didasarkan pada kondisi nyata di lapangan, bukan hanya klaim ramah lingkungan.
7. Pilih Mitra Penyedia Packaging yang Sesuai
Kebutuhan kemasan industri dapat melibatkan spesifikasi yang cukup beragam.
Karena itu, perusahaan perlu memperhatikan konsistensi kualitas, ketersediaan material, ketepatan spesifikasi, komunikasi, dan kemampuan penyedia memenuhi kebutuhan pengadaan.
Mitra yang memahami kebutuhan packaging dapat membantu proses pemilihan kemasan menjadi lebih terarah.
Mengapa Pemilihan Packaging Berpengaruh terhadap Efisiensi Industri?
Packaging mempunyai hubungan langsung dengan berbagai tahapan operasional perusahaan.
Pertama, kemasan yang sesuai dapat membantu menjaga kondisi produk selama penyimpanan dan pengiriman. Hal ini penting untuk mengurangi risiko kerusakan yang dapat menyebabkan kerugian.
Kedua, kemasan yang dirancang sesuai ukuran produk dapat membantu penggunaan ruang penyimpanan secara lebih efisien. Pengaturan ukuran karton dan pallet, misalnya, dapat mendukung proses penataan barang di gudang.
Ketiga, kemasan yang mudah dikenali dan diberi label dengan jelas dapat membantu proses identifikasi serta pengelolaan inventaris.
Keempat, kemasan yang sesuai dengan kebutuhan produksi dapat mendukung kelancaran proses pengemasan. Pemilihan material yang kompatibel dengan mesin dan sistem produksi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Kelima, packaging yang memiliki desain dan kualitas konsisten dapat mendukung citra profesional suatu perusahaan.
Dengan kata lain, kemasan tidak berdiri sendiri sebagai komponen tambahan. Pengaruhnya dapat dirasakan dalam proses produksi, logistik, pemasaran, dan pengalaman konsumen.
Mengenal Kebutuhan Packaging Bersama SURYA MAS LESTARI, CV di Bandung
Memahami berbagai jenis packaging merupakan langkah awal untuk menentukan kemasan yang sesuai dengan kebutuhan usaha maupun industri.
Setiap produk mempunyai karakteristik tersendiri sehingga pemilihan material, bentuk, dan spesifikasi perlu disesuaikan dengan tujuan penggunaannya.
Bagi perusahaan yang sedang mencari informasi mengenai kebutuhan kemasan, SURYA MAS LESTARI, CV dapat menjadi salah satu referensi untuk mengenal lebih jauh solusi packaging melalui website resminya.
Informasi mengenai perusahaan dan kebutuhan packaging dapat diakses melalui:
Website resmi: https://smlpackagingbdg.com
Melalui pemahaman mengenai karakteristik material dan fungsi kemasan, pelaku usaha dapat melakukan pertimbangan yang lebih matang sebelum menentukan kebutuhan pengadaan packaging.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Jenis Packaging
1. Apa saja jenis packaging yang digunakan dalam industri?
Jenis packaging dapat dibedakan berdasarkan fungsi dan materialnya. Berdasarkan fungsi terdapat kemasan primer, sekunder, dan tersier. Berdasarkan material terdapat plastik, kertas, karton, kaca, logam, flexible packaging, dan foam packaging.
2. Apa perbedaan packaging primer, sekunder, dan tersier?
Packaging primer merupakan kemasan utama yang bersentuhan langsung dengan produk atau menjadi wadah langsungnya. Packaging sekunder berfungsi mengelompokkan dan memberikan perlindungan tambahan, sedangkan packaging tersier digunakan untuk membantu penyimpanan dan distribusi barang dalam jumlah besar.
3. Jenis plastik apa yang sering digunakan untuk packaging?
Beberapa jenis plastik yang umum digunakan adalah PET, HDPE, LDPE, PP, dan PS. Masing-masing memiliki karakteristik berbeda sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan bentuk produk, kebutuhan perlindungan, dan persyaratan keamanan.
4. Bagaimana cara memilih packaging yang tepat untuk kebutuhan industri?
Pemilihan packaging perlu mempertimbangkan karakteristik produk, keamanan material, ketahanan, proses distribusi, efisiensi biaya, desain, dan pengelolaan limbah. Untuk produk pangan, persyaratan keamanan bahan kontak pangan juga harus diperhatikan.
5. Apa yang dimaksud dengan sustainable packaging?
Sustainable packaging adalah pendekatan pengemasan yang mempertimbangkan dampak lingkungan sepanjang siklus hidup kemasan. Penerapannya dapat mencakup pengurangan penggunaan material, penggunaan kembali, desain yang mendukung daur ulang, dan pemilihan bahan yang sesuai dengan sistem pengelolaan limbah.
Mengenal Berbagai Jenis Packaging untuk Kebutuhan Industri, Fungsi, Material, dan Cara Memilih Kemasan yang Tepat
Kesimpulan
Mengenal berbagai jenis packaging memberikan gambaran bahwa kemasan mempunyai peran yang jauh lebih luas daripada sekadar membungkus produk. Mulai dari plastik, kertas, karton, kaca, logam, hingga flexible packaging, setiap material mempunyai karakteristik dan fungsi yang berbeda. Begitu pula dengan kemasan primer, sekunder, dan tersier yang masing-masing mendukung kebutuhan perlindungan, penyimpanan, serta distribusi produk. Perkembangan regulasi keamanan pangan dan perhatian terhadap pengurangan sampah juga memperlihatkan bahwa pemilihan kemasan perlu mempertimbangkan aspek keamanan, efisiensi, dan keberlanjutan.
Bagi pelaku usaha maupun industri, memahami karakteristik packaging dapat menjadi bekal dalam menentukan kemasan yang sesuai dengan kebutuhan operasional. Tidak harus memilih material yang paling mahal atau desain yang paling rumit, tetapi lebih kepada menemukan kemasan yang tepat berdasarkan fungsi dan karakteristik produk. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kebutuhan packaging, SURYA MAS LESTARI, CV di Bandung dapat dikunjungi melalui https://smlpackagingbdg.com sebagai salah satu referensi dalam mengenal kebutuhan kemasan industri.
Referensi Indonesia – Pemerintah dan Regulator
1. BPOM – Peraturan Baru Kemasan Pangan (24 Agustus 2026)
Membahas pembaruan aturan keamanan kemasan pangan, migrasi zat, kemasan guna ulang, dan kemasan daur ulang.
BPOM Terbitkan Aturan Baru Kemasan Pangan.
2. JDIH BPK – Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2026
Referensi resmi mengenai ketentuan kemasan pangan yang berlaku sejak 30 Juni 2026.
Baca Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2026.
3. BPOM – Perkembangan Regulasi Keamanan Pangan 2026
Informasi mengenai penguatan regulasi berbasis sains dan perlindungan konsumen.
BPOM Luncurkan Regulasi Berbasis Sains.
4. Kementerian Lingkungan Hidup – Pengurangan Sampah oleh Produsen
Informasi mengenai target pengurangan sampah sebesar 30% pada 2029 melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Dashboard Pengurangan Sampah Produsen.
5. JDIH Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan – Permen LHK P.75/2019
Dokumen kebijakan mengenai peta jalan pengurangan sampah oleh produsen.
Baca Regulasi Pengurangan Sampah Produsen.
Referensi Internasional
6. European Commission – New Rules on Packaging (11 Agustus 2026)
Informasi terbaru tentang penerapan aturan Packaging and Packaging Waste Regulation di Uni Eropa mulai 12 Agustus 2026.
New EU Rules on Packaging Enter into Application.
7. Council of the European Union – Packaging and Packaging Waste
Referensi kebijakan ekonomi sirkular dan pengurangan limbah kemasan di Eropa.
EU Packaging and Packaging Waste Policy.
8. European Commission – Guidance Document for PPWR (2026)
Panduan interpretasi regulasi kemasan dan limbah kemasan untuk pelaku usaha.
PPWR Guidance Document 2026.
